"Mikoooo, jangan naik pagar tinggi-tinggi!"
"Mikoooo, enggak mainan selang! Baju ibu jadi basah nih!"
"Mikoooo, makan gak nih? Kalau gak, ibu tinggal nih!"
...
Hampir setiap hari, urat leherku menegang, dahi berkerut, nafas tersengal, melihat tingkah polah batitaku yang -- kata orang dia sangat lucu, menurutku juga sih -- sangat teramat aktif.
Bukan hiperaktif, hanya saja energiku yang belum mampu mengimbangi isi baterai tubuhnya yang, alhamdulillah, selalu terisi penuh.
Aku, seorang ibu baru, yang baru berusia 26 tahun. Ibu dengan anak lelaki usia nyaris 3 tahun baru yang masih harus banyak belajar.
Berbagai ikhtiar telah aku coba. Puluhan grup whatsapp sudah sering aku sambangi. Puluhan, atau mungkin ratusan ribu chat aku cerna dengan tertatih-tatih.
Aku pikir, ilmu parentingku sudah cukup mumpuni yang dapat aku gunakan sebagai perbekalan untuk mendidik anak-anakku kelak.
Nyatanya, aku masih seringkali terkaget-kaget menghadapi keshalihan anakku. Saking kagetnya, semua ilmu yang telah aku telan seketika aku 'muntahkan' kembali.
"Anak gak boleh dimarahi. Nanti ribuan neuronnya rusak"
"Gaboleh ancam-ancam anak, nanti anak jadi penakut dan peragu"
"Gaboleh ini, ga boleh itu..."'
Apa yang katanya tidak boleh, malah jadi aku lakukan semuanya.
Aku membentak
Aku berteriak.
Dan apakah anakku langsung memberiku 'hormat gerak'?
TIDAK! dia malah berontak.
Aku teriak 'MIKO. JANGAN MANJAT!'
dia malah memanjat makin tinggi sambil cengengesan
Aku bilang, 'JANGAN MAINAN TANAH!'
Dia malah berguling-guling di lumpur bekas hujan. Membuatku makin kesal dan menariknya dari genangan dengan nafas tersengal.
Sampai ketika seorang tetangga menegurku, "bu'e, anakke ojo digeret-geret.. mesakne..'
Kemudian aku melihat anakku.
Dia tidak menangis. Dia memandangiku sambil tersenyum.
'Ibu, ayo main hujan sama Miko..'
Entah kenapa, hatiku malah pedih mendengar ajakannya. Aku menariknya, mungkin dengan cara yang kasar, sehingga membuat tetanggaku menasihatiku secara tidak langsung. Tapi anakku tidak memperlihatkan bahwa dirinya bermasalah dengan caraku. Malah, dia mengajakku dengan tulus, untuk turut bersenang-senang bersamanya di bawah rintik hujan.
Aku menyadari, ada yang salah dengan caraku menyampaikan pesan. Akhirnya, pesanku tidak sampai dengan selamat kepada alamat yang dituju.
Anakku bahkan tidak menerima pesanku.
Sisi lain di hati dan logikaku kemudian berbisik, "Caramu berkomunikasi ini salah. ini tidak boleh dilanjutkan, atau kamu yang akan kesusahan kelak..."
02 November 2017
Setelah terseok-seok mencoba memahami materi yang dibagikan di grup whatsapp 'BunSay 3 Mr. Jatsela', akhirnya aku mencoba untuk melaksanakan tantangan pertama.
Komunikasi Produktif.
Objek (atau subjek yah? hmmm...) yang aku ajak untuk bekerja sama pada game kali ini adalah putra kesayanganku (yang baru 1). Panggil saja ia Miko.
Hari ini, Miko berusia 2 tahun 11 bulan (kurang 2 hari sih 👀). Pertimbangannya, adalah karena aku bertemu dengannya setiap hari. Sedangkan dengan suamiku hanya 3 hari dalam seminggu.
(Ya, untuk sementara, status kami adalah pasangan LDM)
Always keep in touch everyday, doesn't mean we can have a great way in communicating.
Aku merasa, komunikasi dengan anakku selama ini kosong.
Pendek cerita, saat ini, aku masih diberikan amanah untuk mengabdi di ranah publik, sehingga dengan sangat berat hati, aku harus menitipkan anakku dengan pengasuhnya, sementara aku bekerja.
Dan aku tidak ingin kekosongan ini semakin berlarut.
Maka, mulai minggu ini, tepatnya Selasa tanggal 31 Oktber 2017 lalu, aku mulai bertekad untuk lebih meningkatkan kualitas komunikasi dengan anakku.
Aku mulai pedekate dengan Miko.
Alhamdulillah, Miko selalu bangun pagi setiap hari. Sekitar jam 4 pagi. Kebiasaannya ini makin mempermudah rencanaku. Maka, kali ini, aku berusaha memanfaatkan pagi dengan sebaik-baiknya.
Yang mana, biasanya aku bangun pagi, ibadah, kemudian mengerjakan pekerjaan domestik, sementara anakku lebih sering bermain sendirian.
Selasa lalu, aku ajak anakku jogging pagi. Yah, walaupun ending-nya bukan jogging juga sih. Tepatnya jalan-jalan pagi.
Sepanjang jalan, aku perhatikan wajahnya sangat ceria. Miko mengejar burung, berceloteh dengan riang tentang rumput hijau, tentang langit, tentang jalanan rusak, dan sebagainya. Bersenandung.
Dan aku mencoba mendengarkan dengan seksama. Menikmati suaranya yang sangat indah... Subhanalloh, sepertinya belum pernah aku merasakan kesenangan seperti ini bersama anakku..
Selepas jalan pagi, aku mengajaknya mandi.
"Miko, badan Miko lengket nih, keringatan. Kita mandi yuk!"
"Ayok bu!" sahutnya sambil langsung berlari ke halaman belakang (tempatnya biasa mandi).
Ajaib! Kali ini, tanpa teriakan, Miko mau mandi dengan mudah.
Tampaknya, usahaku untuk 'mendekatinya' mulai memperlihatkan hasil.
Walaupun masih di tahap awal, tapi aku sudah merasa senang.
Rasanya makin bersemangat untuk melanjutkan #tantangan10hari ini. 👯
It's my very first time publishing my own writing in a blog. Jadi, tolong dimaklumi segala kekurangan yang ada di sini ya. Every beginning is always difficult, right?
If I Want Something to Change, I Have to Change First
#bismillah
#hari1
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#mainbarengMiko

No comments:
Post a Comment