Friday, November 3, 2017

Miko, Let Ibu KISS Ya!' :*




"Komunikasi adalah suatu proses dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, atau masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain." (Wikipedia)

Indikasi proses komunikasi yang berhasil dapat dilihat dari kesamaan persepsi yang diberikan komunikator (pemberi pesan) dan komunikan (penerima pesan).

Mudahnya begini. Ketika saya berkata: "Miko, ayo makan.", kemudian Miko segera mengakhiri permainannya dan segera membuka mulutnya untuk dijejali makanan, maka saat itulah dapat dikatakan bahwa proses komunikasi antara kami berjalan dengan sukses.

Itu kondisi idealnya. Nyatanya, tidak semua hal di dunia ini dapat tercipta secara ideal. 

Termasuk, proses komunikasi antara saya dan putra saya, Miko.

Alhamdulillah. Seiring dengan bertambahnya usia Miko, bertambah pula kecerdasan dan nalarnya. Efeknya, tidak semua hal yang saya inginkan untuk Miko lakukan, mampu Miko laksanakan saat itu juga. 

Kadang, bahkan sering, Miko bilang, "Emoh". "Nanti aja". "Mau main aja". "Mau bobo aja".

Dan semua hal itu membuat kepala saya puyeng 😅

Saya akui, saya bukanlah komunikator ulung. Saya lebih senang diam ketika tidak mood dan berharap orang lan mampu mengerti perasaan saya, tanpa harus saya sampaikan kepada mereka. 

Kalau kata Ibu Bapak saya, saya ini kacel (bukan kucel lho yaa). Alias gampang ngambek. 

Suami saya pun pernah protes kepada saya yang tiba-tiba mengunci bibir sangat rapat ketika perbedaan sudut pandang kami tidak mampu kami sinkronkan.
"Adek seharusnya bilang, apa yang Adek mau, walaupun hati Adek sedang kesal. Karena kalau hanya diam saja, Mas tidak bisa memahami apa yang seharusnya Mas lakukan. Akhirnya, kita sama-sama tidak bisa mengerti satu sama lain, sampai kapanpun. "
Kira-kira begitulah pesan tersirat yang saya tangkap dari nasihat suami saya. 

Suami saya sosok yang humoris dan menyenangkan. Beliau cenderung amat jarang membicarakan hal yang tidak perlu. 
Maka, ketika beliau mengungkapkan pendapatnya tentang cara saya berkomunikasi selama ini, itu berarti ada yang salah dari gaya komunikasi saya, dan itu mengganggunya.

Saya harus mengubah cara saya berkomunikasi.

Oke, karena objek pembelajaran yang saya 'manfaatkan' pada tantangan kali ini adalah anak saya, maka kita kembali kepada Miko. 

Materi tentang Komunikasi Produktif yang diangkat oleh Kelas BunSay 3 Mr Jatsela banyak memberikan tips kepada saya untuk memperbaiki pola komunikasi saya yang buruk, baik kepada diri saya sendiri, maupun kepada orang-orang di sekitar saya.

Setiap anak memiliki keunikannya masing-masing, termasuk keunikan dalam cara mereka berkomunikasi. Cara Miko menyampaikan keinginannya kepada saya, tentu berbeda dengan cara anak lain berhubungan dengan orang tua mereka. Gaya komunikasi anak kurang lebih akan memiliki kesamaan dengan gaya komunikasi yang orang tua mereka miliki. 

Saya, dengan segala kekurangan saya, tentu tidak ingin menularkannya kepada anak saya. Termasuk dalam cara saya berkomunikasi. Maka, saya harus banyak mempelajari gaya komunikasi yang produktif dan efektif supaya bisa anak saya tiru. 

Karena sesungguhnya, anak tidak pernah salah meniru.  

Ada beberapa tips Komunikasi Produktif dari fasilitator IIP yang dapat saya praktikkan pada tantangan kali ini. Pada hari kedua ini, saya mencoba mengaplikasikan tips pertama, yaitu:

K.I.S.S 😘

Cium?
Bukan. K.I.S.S adalah akronim dari Keep It Short and Simple

Tingkat konsentrasi anak seusia Miko masih sangat pendek. Maka, sebaiknya kalimat-kalimat yang saya gunakan dalam proses komunikasi saya dengan Miko, terutama ketika saya ingin Miko melakukan sesuatu, adalah kalimat-kalimat tunggal yang pendek. Bukan kalimat majemuk yang berlapis dan bertingkat seperti gedung Hartono Mall.

Suami saya saja terkadang bingung ketika saya berkata tanpa henti, apalagi anak saya 😎

Pagi ini, seperti biasa, kami berolah raga pagi mengelilingi komplek perumahan. Kali ini bertiga, saya, suami, dan Miko.

Anyway, Jum'at pagi selalu menjadi awal dari akhir pekan yang membahagiakan bagi saya karena suami saya sudah kembali dari perantauan. 

Sebelum berangkat, saya ingin Miko memakai jaket dan sandal dengan baik. Saya coba menyuruhnya mengenakan jaket dan sandal sekaligus, untuk membuktikan keampuhan dari jurus K.I.S.S.

"Miko, ayo jalan-jalan. Pakai sandal dan jaketnya ya!"

Miko malah mubeng-mubeng koyok kitiran. 😂  

Yap, teori kalimat majemuk vs. kalimat tunggal memang berlaku saat itu.

Saya kemudian memperbaiki perintah saya.

"Miko, yok jalan-jalan pagi, bareng ibu bapak. Mau?"

Miko kemudian berhenti berputar. 

"Mau bu."

"Pakai jaket ya, biar gak kedinginan."

(Tanpa berkata, Miko beranjak ke kamar dan mengambil jaketnya, kemudian menyerahkannya kepada saya) "Ini bu".

Sembari memakaikan jaketnya, saya memandang matanya, tersenyum, (tips yang ini akan saya bahas kemudian), lalu berkata, "Pakai sandal ya Miko..."

"Iya bu..." 

My first mission was accomplished this morning. Miko mau mengiyakan permintaan saya tanpa membuat saya ngomel. Alhamdulillah.

Dan kami pun berjalan-jalan pagi (baca: olah raga) dengan riang. 😏

Sedikit review dari 'pelatihan' hari ini.
  • Teori K.I.S.S. sukses diterapkan pada Miko, pagi ini.
  • Waktu yang dibutuhkan memang lebih lama ketimbang langsung menyuruh Miko dengan omelan, karena saya harus memenggal kalimat dan gesture saya per instruksi. Tapi tidak apa-apa, ini proses.
  • Miko terlihat lebih santai dibandingkan jika saya menyuruhnya dengan gaya komunikasi saya selama ini.

Masih ada banyak PR yang harus saya kerjakan. Bismillah, demi masa depan yang lebih baik.

 







Thursday, November 2, 2017

Intro




"Mikoooo, jangan naik pagar tinggi-tinggi!"

"Mikoooo, enggak mainan selang! Baju ibu jadi basah nih!"

"Mikoooo, makan gak nih? Kalau gak, ibu tinggal nih!"

...

Hampir setiap hari, urat leherku menegang, dahi berkerut, nafas tersengal, melihat tingkah polah batitaku yang -- kata orang dia sangat lucu, menurutku juga sih -- sangat teramat aktif.

Bukan hiperaktif, hanya saja energiku yang belum mampu mengimbangi isi baterai tubuhnya yang, alhamdulillah, selalu terisi penuh.

Aku, seorang ibu baru, yang baru berusia 26 tahun. Ibu dengan anak lelaki usia nyaris 3 tahun baru yang masih harus banyak belajar.

Berbagai ikhtiar telah aku coba. Puluhan grup whatsapp sudah sering aku sambangi. Puluhan, atau mungkin ratusan ribu chat aku cerna dengan tertatih-tatih.

Aku pikir, ilmu parentingku sudah cukup mumpuni yang dapat aku gunakan sebagai perbekalan untuk mendidik anak-anakku kelak.

Nyatanya, aku masih seringkali terkaget-kaget menghadapi keshalihan anakku. Saking kagetnya, semua ilmu yang telah aku telan seketika aku 'muntahkan' kembali.

"Anak gak boleh dimarahi. Nanti ribuan neuronnya rusak"

"Gaboleh ancam-ancam anak, nanti anak jadi penakut dan peragu"

"Gaboleh ini, ga boleh itu..."'

Apa yang katanya tidak boleh, malah jadi aku lakukan semuanya.

Aku membentak

Aku berteriak.

Dan apakah anakku langsung memberiku 'hormat gerak'?

TIDAK! dia malah berontak.

Aku teriak 'MIKO. JANGAN MANJAT!' 
dia malah memanjat makin tinggi sambil cengengesan

Aku bilang, 'JANGAN MAINAN TANAH!' 
Dia malah berguling-guling di lumpur bekas hujan. Membuatku makin kesal dan menariknya dari genangan dengan nafas tersengal.

Sampai ketika seorang tetangga menegurku, "bu'e, anakke ojo digeret-geret.. mesakne..'


Kemudian aku melihat anakku. 
Dia tidak menangis. Dia memandangiku sambil tersenyum.
'Ibu, ayo main hujan sama Miko..'

Entah kenapa, hatiku malah pedih mendengar ajakannya. Aku menariknya, mungkin dengan cara yang kasar, sehingga membuat tetanggaku menasihatiku secara tidak langsung. Tapi anakku tidak memperlihatkan bahwa dirinya bermasalah dengan caraku. Malah, dia mengajakku dengan tulus, untuk turut bersenang-senang bersamanya di bawah rintik hujan.

Aku menyadari, ada yang salah dengan caraku menyampaikan pesan. Akhirnya, pesanku tidak sampai dengan selamat kepada alamat yang dituju.

Anakku bahkan tidak menerima pesanku. 

Sisi lain di hati dan logikaku kemudian berbisik, "Caramu berkomunikasi ini salah. ini tidak boleh dilanjutkan, atau kamu yang akan kesusahan kelak..." 

Sunday, March 6, 2011

Bismillah

Here we go...
wah.. FIRST POST IN MY FIRST BLOG!!! 
Mungkin Anda semua bertanya-tanya, "Makhluk dari mana nih, hari gini baru bikin blog kayak gini,, di blogspot pula... please dech" or pertanyaan-pertanyaan lain..

Haha, saya akui, saya emang gaptek. Awalnya gak ada interest sama sekali buat bikin blog macam ni. Tapi lama kelamaan, saya 'ngerasa kayaknya asyik kalau kita bisa menuliskan pengalaman sehari-hari yang, perasaan sedih atau senang, atau sekadar junks gak penting. At least kita bisa menumpahkan semuanya di sarana yang InsyaAllah gak bakal ngerugiin orang lain (sejauh kita bisa memegang teguh 'kode etik' dunia pertulisan --halah--) ketimbang disimpan sendirian, apalagi buat orang intovert macam saya

Oke, daripada banyak cuap-cuap.. izinkan saya explore dunia baru saya deh
Mohon bantuannya para Expertians (baca: senior)

Chao!